9 Okt 2009
Sahabat Karib
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan…
-Ebiet G Ade, Berita Kepada Kawan-
Laksana petir menggelegar, saya mendengar berita itu (gempa di Sumatera Barat). Sampai terbawa mimpi, saya seakan melihat kejadian tersebut persis saya alami. Puji syukur pada Rabb semesta alam atas kebaikan-Nya masih menjaga saudara di kota Padang.
Paragraf dan bait lagu di atas merupakan sekelumit cerita yang berpilin satu sama lain dengan kisah berikut ini. Mari kita simak baik-baik.
Alkisah, hari itu kejadian itu terjadi. Betapa kaget diri saya setelah tidak mengikuti satu mata kuliah karena alasan sepele, LUPA. Pun demikian dengan berita gempa dan kabar kehidupan mad’u (sejujurnya saya lebih senang memanggilnya dengan sebutan ‘sahabat karib’) saya. Bagaimanalah saya tidak menyangka, sahabat karib saya ternyata memiliki masalah yang cukup kompleks.
Sebelumnya, mari kita kenang kembali cerita tentang sahabat-sahabat karib saya. Ada beberapa orang (selama ngampus dari semester 1 hingga semester 3 sekarang) yang pernah menjadi sahabat karib saja, buka telapak tangan kita, lalu kita akan tahu ada berapa banyak kepala yang pernah nempel-nempel dengan diri saya. Salah satunya sudah bergabung dengan barisan yang sedang saya ikuti pula, yang lain dalam masa processing untuk bergabung bersama pula. Akan tetapi, yang terakhir disebutkan ini agak berbeda. Background-nya sahabat saya yang satu ini agak berbeda, dia pintar dan sudah pernah mengikuti kegiatan rutin pekanan sebelumnya (bahkan saya diberi tahu siapa guru mengaji dan mengkajinya), meskipun masalah penampilan akhirnya dia hijrah juga (bahkan saya disuruh memilihkan pakaian yang cocok baginya, cocok warna dan cocok harga pula). Finally, dia berubah. Total. Ikut ngaji lagi. Tambah pintar pula. Tambah laptop pula (yang ini tak termasuk ya?). Pada awalnya, tak pernah tebersit sedikitpun niat untuk berkarib dengannya karena saya takut gagal. Sungguhlah saya teramat takut gagal karena dia memiliki segalanya. Pintar. Finansial berkecukupan. Supel. Ramah. Jaringan yang luas. Bagaimanalah saya mampu. Bagaimanalah saya bisa menyelesaikan ini dengan manis (semanis kembang gula). Akan tetapi, keberhasilan ini mematahkan argumen saya sebelumnya. Saya berhasil! Lantas, saya tidak mundur. Saya maju! Mari kita lanjutkan cerita ini tentang sahabat karib berikutnya. Dia seorang aktivis. Bahkan, jika total aktivitas kelembagaan saya dijumlahkan dengan miliknya, saya masih kalah karena dia ikut LD yang lebih besar daripada LD yang saya ikuti sekarang ini. Awalnya, saya banyak berdiskusi dengannya tentang penampilan. Akan tetapi, keterlibatan aktifnya di organisasi LD tersebut memiliki andil cukup besar untuk membantu proses diskusi kami yang mengakibatkan penampilannya semakin rapi saja. Diskusi tersebut berlanjut hingga membuatnya memiliki kegiatan rutin pekanan. Tunai sudah merengkuhnya. Kini saatnya mencari karib baru. Ternyata, karib baru saya kali ini orangnya (sangat) lebih tinggi (tubuhnya) daripada saya (but, it’s ok, no problem). Ada banyak hal yang saya diskusikan dengannya. Namun, saya merasa kurang sanggup covering pertanyaan-pertanyaannya yang bejibun itu. So, saya serahkan ia kepada karib saya yang pertama tadi (toh dia juga mendapat tugas mencari sahabat karib pula, tetapi nampaknya karib pertama saya melempar balik pada saya, fiuh). Nah, karib saya yang terakhir ini agak berbeda dari karib-karib sebelumnya. Dia belum dihijab, benar. Mentoringnya masih pasif, benar. Gitu deh, dia merupakan mahasiswi tipe kuliah dengan sedikit organisasi. Banyak hal saya bagi padanya (dan orang-orang di atas juga) termasuk hal sensitif seperti tim pemenangan dan sebagainya karena bagi saya dia cukup mengerti, hanya saja tidak terlalu respek dengan hal tersebut. Sampai hari itu, hari ketika hujan turun kali kedua di kota belimbing. Dia menceritakan masalah keluarganya. Dan saya belajar menjadi pendengar yang baik (seperti yang sering digaungkan orang-orang bahwa pendengar yang baik itu langka di bumi ini) baginya. Ternyata masalahnya kompleks. Tak seperti yang saya bayangkan. Sungguh, lebih berat bahkan daripada masalah keluarga saya (mungkin, hanya asumsi hati saja). Dari percakapan (yang saya lebih banyak diamnya) itu, saya tahu tentangnya. Dan saya baru menyadari, tidak semua orang (spesifikasi: teman satu jurusan, satu angkatan) mau membagi masalah keluarganya pada orang seperti saya yang bertipe sanguinis ini. Harapan saya tak muluk-muluk: masalahnya selesai dan dia bisa mendapatkan teman-teman kajian pekanan yang (jauh) lebih baik daripada saya, mau mendengarkan lebih sabar lagi tentang keluh-kesahnya tentunya dengan penyelesaian masalah yang relevan dengan keadaannya. Sungguhpun bila hari itu hujan tak turun, entah kapan saya akan mendapat sesi praktikum materi ‘Menjadi Pendengar yang Baik’. Betapa hujan itu betul-betul membawa berkah.
Begitu pun dengan hujan di Tanah Andalas. Seperti hari itu, langit dan bumi sudah menjalankan perintah Sang Khaliq secara total, tidak setengah-setengah. Setelah bumi menggoyang negeri di salah satu belahan Sumatera itu, langit menurunkan tetes-tetes air keberkahan bagi penduduk negeri. Lihatlah itu, mungkin karena suatu hal yang belum saya ketahui negeri itu dihujani keberkahan. Ya, keberkahan. Karena air langit itu tidak turun menyerbu dengan ganas sehingga membuat danau tambahan di daratan seperti yang biasa terjadi di ibukota. Sungguh, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Betapa kalimat ini benar adanya, analoginya seperti kegiatan yang baru saja diceritakan itu. Sungguh relevan dengan kondisi tepi zaman seperti sekarang ini.
Lantas, apa hubungannya dengan bait lagu Bang Ebiet tadi? Tentu saja ada hubungannya. Tak pahamkah kita, semuanya memiliki ikatan, pilinan yang berkaitan. Saya hanya ingin mencari sahabat karib yang bisa menemani perjalanan yang undescribable ini. Meskipun tak terbayangkan (sulitnya), keyakinan (iman) akan Firman Rabb semesta alam pada paragraf sebelumnya sudah cukup menjawab semuanya. Semuanya.
Baiklah, kisah ini sudah selesai. Mudah-mudahan bersahabat karib pun dapat diselesaikan dengan manis pula. Amin.
Ahh ya, saya jadi teringat dengan sahabat karib lama saya. Dia sudah menjadi salah satu petinggi fakultas di universitas kita ini. Betapa saya ingat, tak pernah sedikitpun dulu (masa putih-abu-abu) terlintas di benak saya untuk membahas-bahas tentang pakaian yang sesuai perintah Rabb kami. Tiba-tiba pesan pendek yang sebelumnya diterjemahkan dalam kombinasi string 1 dan 0 menyembul di ponsel jadul saya. Isinya kira-kira berupa pertanyaan apa saja yang harus dia beli untuk membungkus tubuhnya dengan pakaian taqwa. Sungguh, betapa terkejutnya saya. Segera saya mengucap kalimat terima kasih pada sang Ilah. Kelanjutan ceritanya, ia tetap konsisten dengan pilihannya sekalipun belum ada anggota keluarganya yang mengikuti jejaknya.
Dan ia kini sudah tumbuh menjadi gadis yang baik hati dan menyenangkan. Dia amat disukai banyak kalangan karena kebaikannya. Meski setelah cerita tersebut selesai, saya tetap berusaha belajar banyak darinya. Belajar akan perubahan. Ya, perubahan. Mudah-mudahan perubahan itu memberikan manfaat yang berlimpah bagi penduduk bumi seraya diamini penduduk langit. Seperti hujan (yang membawa berkah), perubahan (yang baik dan memberikan manfaat) tentunya akan disaksikan Sang Khaliq sebagai sebuah effort untuk berlari menuju-Nya dan dicatat baik-baik oleh the guardian di samping kanan kita.
Pun demikian, mudah-mudahan penduduk langit sekiranya mau berbaik hati mencatat keinginan saya lantas membimbing agar keinginan itu tercapai, memandang wajah Allah sekaligus bercengkerama dengan-Nya, Rabb semesta alam.
Asri Nur Chiquita
Matematika
FMIPA
2008
UI
3 Okt 2009
10 Sep 2009
Makna Kata ‘Ukhuwah’ Sebenarnya…
Musim semi kini telah tiba
Bunga-bunga bermekaran
Di sepanjang jalan warna berganti
Segar asri berseri… di hati…
“Aku ingin keluar dari jama’ah ini!”, sepotong kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk pertama kali, namun sudah tak terhingga kalimat ini mengiang di telinga kita. Bukan pula yang terakhir kali, karena inilah sunatudda’wah. Pertanyaan ini senantiasa membekas di setiap zaman, di setiap episode da’wah, dari zaman kenabian sampai hari kiamat.
“Silahkan akhi....silahkan ukhti....”, jawab seorang ikhwah menimpali. Beberapa dari kita memepersilahkan kepergian saudara dari barisan ini dengan sikap biasa-biasa. Sikap yang lahir dari pemahaman bahwa hal ini merupakan sunnah da’wah, bahwa akan selalu lahir ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid baru, bahwa Islam akan tetap terpelihara sehingga tidak pantas barisan ini merengek-rengek demi menahan kepergian seseorang, bahwa seleksi alamiah berlaku untuk membersihkan orang-orang yang barangkali memang kurang pantas menegemban amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak yang menerapkan dengan apa adanya, maka akhirnya tidak sedikitlah yang benar-benar mundur dari barisan ini.
Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang stabil atau sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita. Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika kondisi saudara kita tidak stabil, sedang mengalami fluktuasi iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita menlihatnya dengan perspektif berbeda dengan apa yang dirasakannya atau yang dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa survival bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia butuh sentuhan-sentuhan perhatian kita.
Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup sendiri tanpa seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahwa kita harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar mengucapkan, “selamat tinggal”, kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan bahwa ini adalah sunatudda’wah.
Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah tarbiyah bertahun-tahun. Buka hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustadz pun ada yang terjatuh, saat tergiur indahnya dunia. Kehilangan seseorang yang telah memiliki kepahaman dan mobilitas da’wah yang tinggi, apakah bisa diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam barisan ini, tanpa kepahaman dan aksi da’wah yang mapan? Lepasnya seorang kader produktif apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 orang yang baru-baru mengikuti dauroh tahap awal, dengan produktivitas da’wah yang masih nol?
Saudaraku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5 tahun telah bisa menyamai kepribadian Ka’ab bin Malik ra.? Nilai keimanan memang tidak bisa diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita bisa melihat secara umum bagaimana kondisi keimanannya dengan parameter usia interaksinya dengan da’wah. Apakah kita akan menyikapi seorang yang baru setahun liqo dengan sikapnya Musa As. kepada Harun As. saat beliau menarik jenggot saudaranya? Atau kita mencoba mengikuti marahnya Abu Bakar ra. kepada Umar ra. yang memilih jalur ‘lembut’ dalam menyikapi Musailamah dan orang-orang yang menolak zakat? Sekeras itukah kita berperilaku terhadap seorang ikhwah.
Di mana senyummu saat pertama bertemu bersama dalam da’wah ini, di mana pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru masuk dalam aksi tarbiyah? Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia tidak menyapamu, smslah ia saat tidak pernah muncul-muncul dalam pertemuan keimanan. Datangilah mereka yang lemah, mereka yang manja, tularkan petuah-petuah juangmu. Apakah benar sudah saatnya mereka survival dalam menjaga stabilitas keimanannya? Tidak, tidak ya ikhwah, cukuplah derai air mata ini, cukuplah kesedihan hilangnya seorang ikhwah ‘berhenti sampai di sini, dekaplah dan tahanlah mereka yang hendak pergi.
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun...
Dunia ibarat sebuah terminal
Hanya tempat persinggahan
Bersabarlah hadapi ujian
Tak kan lama kan tinggal...
Artikel ini diberikan oleh Abdul Rahim saat kita masih duduk di bangku sekolah berseragamkan putih abu-abu. Hanya ingin sedikit berbagi agar tak perlu ada yang mengundurkan diri dari ‘semua’ ini.
30 Agu 2009
Kota Oslo Ijinkan Burqini Dikenakan di Kolam Renang
Setelah Inggris mengijinkan pemakain Burqini di kolam renang umum sekarang kota Oslo mengijinkan bagi muslimah mengenakan pakaian Burqini di kolam renang.
Pihak berwenang kota Oslo telah memberikan kewenangan khusus bagi muslimah yang ingin berenang di kolam renang dengan mengenakan pakaian renang yang menutup seluruh tubuh, kata seorang pejabat setempat kepada radio NRK pada Jumat kemarin.
"Beberapa orang mengatakan bahwa mereka perlu menutupi seluruh tubuhnya," kata Jan zander yang bertanggung jawab untuk urusan olahraga dan rekreasi. "Kami kira penting buat mereka yang tinggal di kota ini untuk bisa berenang dan menggunakan kolam renang."
Sebelumnya kolam renang di kota Paris melarang seorang muslimah mengenakan "Burqini" di kolam renang. Sedangkan walikota Italia utara yang anti imigran Varallo Sesia malah akan mengenakan denda bagi muslimah berenang mengenakan pakaian tertutup seperti Burqini dan akan dijatuhi hukuman denda sebesar 500 euro (700 dollar AS) bagi yang melanggar aturan tersebut.
Peraturan baru Oslo yang dikutip oleh radio NRK mengatakan bahwa perenang yang menutupi seluruh tubuhnya dengan alasan budaya ataupun keagamaan harus memakai pakaian renang yang bersih yang dirancang khusus untuk berenang.
Zander membantah bahwa pakaian seperti itu tidak higienis.(fq/aby)
www.eramuslim.com
woman
-copast dr sebuah sumber-
Woi..Dah RAMADHAN nih!
Tentunya kita sudah sering bercengkerama dengan bulan yang satu ini. Bulan ini diapit oleh bulan sya’ban dan syawal. Hmm, Cuma pengenalan kok. Tahu kan mau apa kita saat ramadhan? Yup, puasa! Itulah salah satu rukun islam yang wajib kita penuhi. Apalagi kita udah pada baligh.
Nah, apa sih istimewanya bulan “ini”? bulan ini bulan spesial karena Cuma dikasih untuk orang-orang beriman. Kamukah orang beriman itu? Bulan ramadhan juga merupakan bentuk perhatian Allah buat kita. Coba aja, pintu syurga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan-setan diiket, pahala dibagi-bagi, dan kita bisa cuci darah (ups!) cuci dosa maksudnya di bulan barokah ini. Wheww, reward yang gak tanggung-tanggung! Mumpung lagi banyak reward, yuk coba kita membaca diri kita, sudahkah kita menjadi muslimah yang taat? Sudahkah kita melakukan semua perbuatan sebaik-baiknya? Akankah terminal hidup kita ini bermuara pada Allah? Pada Syurga-Nya? Atau justru ke neraka-Nya? Na’udzubillah...nah, mumpung masih tinggal di dunia nih, yuk kita bebenah diri mempersiapkan kematian yang selalu mengikuti kita, tapi kita tak tahu kapan kematian itu menjelang..? gampang aja caranya, coba kita lihat hal-hal simple seperti mencoba sholat tepat waktu (gak mepet adzan berikutnya), terapin 6S (senyum, sapa, salam, sopan, santun, dan salaman), menutup aurat (ayo, coba manfaatin Ramadhan. 30 hari pakai jilbab kan ga sebanding dengan 11 bulan sebelumnya kita mengumbar aurat kita, siapa tahu hidayah Allah dateng, trus kita ‘keterusan’ pakai jilbab deh sampai akhir hayat kita..), dan berbagai kegiatan positif lainnya.
omong-omong soal puasa, banyak lho manfaatnya! Kita bisa menahan hawa nafsu sehingga kita bisa mengendalikannya. Puasa juga melatih diri kita supaya lebih peka terhadap kemiskinan, dan masalah-masalah sosial lainnya. Nah, puasa juga mendisiplinkan kita apalagi organ-organ dalam tubuh kita karena kita memberikan waktu istirahat untuk mereka.
Kalau puasa, sunnahnya kan sahur tuh, melalui sahur kita jadi terbiasa bangun pagi, bisa dibiasakan sholat tahajud deh dan subuhnya jadi gak telat. Kan bagus tuh, menambah tabungan amal kita, toh?
“Ada tiga akhlak para Rasul yaitu: mempercepat buka, memperlambat sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat.” (HR. Thabrani)
“Ummatku akan selalu dalam keadaan baik selama mereka mempercepat berbuka dan memperlambat sahur.”(HR. Ahmad)
Nah, sudahkah kamu punya targetan? Kalau belum, ayo cepat dibuat..mumpung masih ramadhan nih..
*asri nur chiquita,
syaja'ah 28
matematika-fmipa ui, 2008*
Dunia Kampus, Dunianya Kita-kita
Memasuki dunia kampus terasa sangat membanggakan bagi mereka yang baru pertama menginjakkan kakinya. Dunia kampus yang notabene idealis banyak memiliki perbedaan dengan dunia sekolah. Pola belajar sudah tentu berbeda. Ada perubahan dari sistem keteraturan menjadi kurang beraturnya jadwal belajar. Selain itu, kampus merupakan tempat berbaurnya berbagai ideologi, dari yang agamis hingga yang atheis, dari yang nasionalis hingga yang apatis, dari yang kiri totok sampai yang kanan mentok ada semua di sini. Adanya keberagaman ideologi ini mengakibatkan pergaulan yang luas. Tak ada batas-batas pemisah kecuali bagi mereka yang membuatnya. Tak adanya batas pemisah ini dapat mengakibatkan pergaulan yang bebas. Karena itu, baiknya kita memiliki batas pemisah itu agar tidak ‘kebablasan’. Tanpa perlu dibuat, batas itu sudah ada dengan sendirinya, itulah yang disebut agama, dan kita cukup menerapkannya saja dalam kehidupan sehari-hari. Kembali lagi ke bagian ideologi, adanya ideologi yang beragam tak dapat kita nafikan bahwa kampus-lah miniatur Negara ini. Semua kalangan berbaur menjadi satu di kampus. Semua, semua agama, suku, dan semuanya. Karena itu, kita butuh mengenal tempat kita tumbuh dan berkembang sekarang, kampus.
Dunia kampus juga menyimpan selaksa makna bagi penghuninya. Tak dapat kita ingkari, dari kampus, kita mendapatkan teman-teman baru dan tentunya kita akan bergaul dengan mereka, tertawa dengan mereka, ujian dengan mereka, bahkan kalau bisa pun lulus dengan mereka. Karena itu, kita juga dituntut untuk mampu memilah dan memilih teman yang baik, teman yang mampu membawa kita pada kebaikan agar kita tak terjerumus. Melalui teman yang baik, keadaan kita akan kondusif sehingga sistem keamanan tubuh (imun) kita kebal terhadap pengaruh-pengaruh buruk.
Lalu, kita pun butuh tameng yang kuat untuk menahan pengaruh-pengaruh buruk itu. Niat itu ada di dalam hati, terkadang niat terkotori dengan hal-hal yang tak dinyana. Karena itu, kita harus tetap menjaga dan meluruskan niat kita. Tak lupa pula untuk bersyukur pada Allah dalam kondisi serta keadaan bagaimanapun. Serta berkomitmen dalam menjalani kuliah ini. Komitmen itu berarti konsisten, persisten (teguh dan dinamis), dan resisten. Dan yang terakhir tetaplah optimis menjalani hidup ini karena sesungguhnya bersama kesukaran (pasti) ada kemudahan.
“kejarlah dunia sekan-akan kamu akan hidup seribu tahun lagi, dan peganglah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok”
12 Mei 2009
baru ngisi lagi!!
ntar yah, blog ku...akan kuisi...
18 Mar 2009
Lelah
tapi, sore ini aku akan rapat voters education....
yap, ituloh prokernya bem ui 09
sebenernya aku lagi rada bete....oke, aku akan beri tahu apa yang bikin aku bete.
pagi ini aku dikagetkan dgn sms (bagi aku nadanya seperti perintah) yang membuat aku ilfil,,,tambah ilfil dari pekan kemarin....
padahal, aku udah tutup buku tentang masalah itu....
aku udah ga memerdulikan tentang hal itu lagi deh intinya...tiba2, pagi tadi orang itu membuka kembali bukunya (loh??,ngguyon aj)
Jika ia mengatakan bahwa ia kecewa, aku akan menampiknya bahwa aku lebih kecewa.
tinggal bilang kan bahwa dia sudah keluar, aku pun udah tau...
wah, jadi emosi nih akunya, mungkin beberapa teman bisa mengerti
jujur, aku tidak mau punya musuh, apalagi orang ini udah kuanggap jadi saudaraku sendiri.
I can't believe...
yaudah deh, kututup sj lagi biar JELAS bahwa aku sudah menutup hal ini
yuk kita kembali semangat (:*)
wassalam
jzkllh khairan katsira
11 Mar 2009
Sedang Menunggu SPSS sesi 2
Padahal kemarin aku kehujanan. Basah semua bu!!!
Sambil iseng2 nunggu praktikum SPSS sesi 2, aku jalan ke perpus MIPA...mau ngenet tapi nyari bahan agama
eh ga nyangka nemu 'sesuatu' yang agak gimana gitu....aku ilfil banget deh sama hal tsb...
karena baru 2 pekan belakangan (flash back) aku menemukan sebuah fakta yang mengejutkan...!!!
wah2, ga nyangka ya....buat 3 orang yg pernah aku sms-in pasti tahu lah apa yang aku rasakan sekarang...
dan sekarang aku tambah ilfil....
mungkin aku butuh waktu merenung...
(TAPI JANGAN LAMA2 SRI!!! NANTI TANGGUNG JAWAB KAMU TERLALAIKAN, OKEH!! ---sebut saja aku mawar :p---)
4 Mar 2009
Belajar dari Kalian
eh, tapi koq akhir2 ini malah lebih sering ngobrol tentang da'wah kampus ya???
Jujur, asri sebenernya rindu bgt untuk berkecimpung kembali di da'wah kampus...well, mungkin Allah emang belum ngasih waktu
kita tunggu aja!!
sekarang...ui dan 28 lagi hot2nya nih membumikan atmosfer islam...tapi, lagi2 asri harus berjibaku dengan masalah internal...astaghfirullah...
wah, udahan ya curhatnya...ntar disambung lagi
wassalam
16 Feb 2009
Obama yang Dielukan Orang Indonesia
|
Akhwat Sejati itu....
Akhwat sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap. Akhwat sejati tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, tetapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan. Akhwat sejati tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah. Akhwat sejati tidak dilihat dari kehadirannya dalam syuro’, tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan. Akhwat sejati tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al - Qur’an, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al - Qur’an tersebut.
Akhwat sejati tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik. Akhwat sejati tidak dilihat dari IP-nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat. Akhwat sejati tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu membentengi hati. Akhwat sejati tidak dilihat dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja. Akhwat sejati tidak dilihat dari sholatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktivitas sholatnya. Akhwat sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang tua dan teman - teman, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar - Rahman Ar - Rahiim. Akhwat sejati tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan air mata penyesalan yang jatuh ketika sujud Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya. Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya. Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah … |